Wednesday, October 10, 2018

Membaca dengan Puzzle Telur - bag.2

Bismillahirahmanirahiim

Assalamualaikum teman-teman. Di catatan saya, anak-anak yang berada di fase Thufulah hendaknya tidak perlu belajar calistung lebih dulu, kita sebagai orang tua baiknya lebih memperbanyak waktu bermain yang bisa menstimulasi sensorik motoriknya. 

Nah bermain puzzle merupakan salah satu kegiatan yang bisa menstimulasi motorik halusnya, selain itu juga baik bagi perkembangan koordinasi tangan dan matanya. Puzzle telur ini bisa digunakan untuk menstimulasi anak-anak yang sedang dalam periode sensitif membaca. Perlu diingat oleh saya sendiri (dan mungkin teman-teman juga) untuk tidak memaksa anak membaca sebelum usia 7 tahun. Akan tetapi, bila di usia sebelum 7 tahun anak sudah muncul periode sensitif membacanya, kita bisa menstimulasi mereka dengan bersama - sama main puzzle telur ini. Such a win-win solution yaaah..hehehe. 



ini ketika Langit main puzzle telur bagian 1

Ini ada free printables nya kan yah, nah malam ini saya post bagian keduanya. Agak lebih banyak lagi hehehe. 





Untuk teman-teman yang berminat download silahkan langsung klik link di bawah ini ya. 


Selamat bermain bersama anak-anak yang sedang dalam periode sensitif membaca, semoga bermanfaat yah boebooo..

Wassalamualaikum,




Monday, October 8, 2018

Fitrah Perkembangan Anak : Apa Saja yang Harus Dilakukan pada Fase Thufulah? - part 1

Bismillahirahmanirahiim,

Assalamualaikum teman - teman. Kali ini saya mau melanjutkan cerita dari hasil kajian parenting anak usia dini-nya. Minggu lalu saya sudah menulis tentang empat fase pendidikan anak dilihat dari sudut pandang agama Islam, untuk teman-teman yang mungkin belum membaca, bisa melipir sekejap ke sini Mukadimah Fitrah Perkembangan Anak supaya lebih nyambung sedikit dengan curhatan saya, hehehe. 

Karena anak-anak saya masih berada dalam fase Thufulah, jadi saya hanya akan menceritakan fase perkembangan ini saja, yaaaaah karena sudah ada sedikit aplikasinya gitu hihihi. 
Menurut Ustadz Abul Abbas, beberapa hal yang harus dilakukan pada anak - anak usia 0-7 tahun ini adalah 

  1. Menumbuhkan rasa Cinta kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atau disebut juga dengan Mahabbatullah. Untuk menjadikan anak-anak kita anak-anak yang shalih/shalihah diperlukan untuk membangun rasa cinta mereka terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Membangun rasa cinta untuk kemudian menjalankan ibadah dengan kesadaran diri sendiri karena didasari rasa cinta terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. 
          Kita belum boleh memaksakan anak-anak usia dini untuk menjalankan kewajiban beragama, karena mereka masih berada di fase dini, fase belum wajib beribadah. Hendaknya ketika anak-anak kita menjalankan ibadah sesuai syariat adalah dikarenakan rasa cintanya terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Dengan begitu mereka akan menjalankan dengan ringan hati dan bersungguh-sungguh. 

Perlu diingat bahwa ketika seseorang yang hatinya mencintai Allah Subhanahu wa ta'ala, maka hatinya akan mendorong untuk sholat, puasa, mengaji, dan hatinya pun akan mendorongnya untuk menjauhi maksiat, menjauhi riba, serta menjauhi segala perbuatan yang dibenci oleh Allah ta'ala. Rasa cinta membuat kita mudah menjalankan syariat, karena syariat sama dengan beban, sehingga dinamakan dengan taklif. Orang yang menjalankan syariat dinamakan mukalaf atau orang yang dibebani. Ketika syariat dijadikan beban maka ia akan berat untuk dikerjakan, sehingga rasa cinta lah yang membuat kita untuk mudah menjalankan  syariat. Begitupun dengan anak-anak, mereka harus melewati tahapan ini terlebih dulu agar nanti mereka mudah menjalankan syariat.

Rasanya saya merasa ada kurang tepat ketika mengaplikasikan point pertama ini, tiba-tiba banyak pertanyaan di kepala saya, kemarin saya memaksakan ga ya ke Langit? saya udah bener belum ya kalau menstimulasi dan membiasakan sejak dini? Tapi kalau dilihat-lihat dari hasilnya sih, Langit bisa hafal beberapa surat karena dia terbiasa mendengarkan bareng-bareng sama saya. Atau ketika dia ingin pakai gamis dan hijab, itu karena dia bilang "aku pengen pakai baju sama kerudung yang sama kaya bunda" jadi ya saya belikan untuk dipakai. Tapi waktu dibaca-baca lagi, kita tidak boleh memaksakan syariat, tapi kalau anaknya sendiri yang meminta maka kita boleh memberikannya asal jangan sampai mencederai fitrah keimanannya. Okesip Insyaa Allah yang kemarin masih bisa ditoleransi dan diperbaiki ke depannya. Semangat ibuuk. 




       2. Mengokohkan Tauhid Rububiyah (mengakui Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai pencipta dan pemberi rezeki). Kita dapat melakukannya dengan mendekatkan anak dengan alam, mengenalkan anak dengan lautan, sawah, gunung, hewan-hewan, tumbuhan dan sebagainya. Mengenalkan Allah Subhanahu wa ta'ala dengan mengenal ciptaan-Nya. 
Kita dapat mengajak mereka bermain di alam bebas, mengeksplorasi alam, sambil bercerita tentang kehebatan Allah Subhanahu wa ta'ala. Misalnya ketika kita mengenalkan anak dengan lebah, kita bisa menceritakan surat An-Nahl, atau ketika kita mengajak anak ke kebun binatang untuk melihat gajah, kita bisa menceritakan tentang surat Al-Fiil. 
Semakin anak dekat dengan alam, anak-anak akan semakin mengenal Allah dan merasakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. 



Bercerita shirah Nabi sambil bermain dengan gajah


        3. Menguatkan sisi egosentris anak. Anak merasa bahwa dia adalah pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya. Seringkali kita melihat anak-anak usia 0-7 tahun ini adalah anak-anak yang pelit, tidak ingin berbagi dengan teman atau saudaranya. Kita boleh menuruti keinginannya asalkan tidak mencederai fitrah keimanannya. Bila dia tidak ingin berbagi mainan, maka biarkan saja, bila kebutuhannya akan bermain di usia 0-7 tahun sudah terpenuhi maka Insyaa Allah nanti di fase Tamyiz (7-10 tahun) dia akan bisa berbagi. 
Bila anak menginginkan mainan, boleh tidak dipenuhi, tapi kemudian ajarkan dia berdoa, kita bisa mencontohkan dengan berdoa di depannya. Kalau kita memenuhi keinginannya akan mainan baru, kita perlu melakukan akad tanggung jawab atas mainan yang sudah dipilihnya, (seperti : "nanti kalau sudah punya mainan baru harus dijaga ya, dirawat, selesai main disimpan lagi ke tempatnya, dst")
Memberi tahu konsekuensi bila dia merusak mainannya dan melepaskan tanggung jawab merawat mainan tersebut. Baiknya, kita jangan merampas dan terlalu mengekang keinginan anak. 

Kalau kami ketika Langit ingin mainan baru, kami arahkan dengan kalimat "boleh, tapi tidak sekarang ya, kakak berdoa dulu minta sama Allah, minta mainan yang ini, terus nanti kakak usaha dulu, nabung dulu. cari uangnya dengan bantuin bunda, terus nanti dikasih uang buat ditabung. Insyaa Allah nanti kalau sudah rezekinya Allah izinkan tabungan penuh baru bisa dipakai beli mainan baru". Biasanya ini berhasil ko, dengan hasilnya antara tidak cranky saat keinginannya tidak langsung dipenuhi saat itu juga, atau dia semangat berusaha sampai dia lupa akan mainan tadi yang diminta tapi ganti mainan beda lagi hehehe.


jualan hasil karyanya, terus uang hasil jualannya 
dipake jajan dan beli mainan lagi hehe


     4. Menggambarkan perkara yang ghaib. Di usia 0-7 tahun adalah masanya anak-anak berimajinasi. Dalam pikiran mereka semua adegan di film kartun adalah kenyataan, mereka belum bisa membedakan mana kejadian yang fiksi, mana kejadian yang nyata. Apabila kita tidak mengimbangi dengan pengetahuan ghaib maka akan jadi tidak baik hasilnya. Kita bisa menceritakan tentang Allah Subhanahu wa ta'ala, tentang malaikat, menceritakan shirah Nabi, seperti misalnya kisah Nabi Yunus Alaihi Salam yang ditelan ikan paus, menceritaka kisah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Salam ketika Isra Mi'raj, kisah Nabi Ibrahim Alaihi Salam ketika dibakar api, dan banyak kisah-kisah lainnya. Karena sesungguhnya kisah-kisah para Nabi dan Rasul lebih nyata daripada film-film tentang superhero. Kisah Nabi dan Rasul terasa ghaib hanya karena kita tidak menyaksikannya sendiri, padahal kisah-kisah tersebut benar-benar terjadi dan sudah dituliskan dalam Al-Quran. Maka dari itu, di usia 0-7 tahun ini adalah masa yang tepat untuk menggambarkan perkara yang ghaib.


Shirah Nabi menceritakan tentang merpati dan
 laba-laba yang melindungi Rasulullah SAW


       5. Orang tua harus bisa membersamai anak-anak sebagai teman bermainnya. Menempatkan diri sebagai teman sebayanya ketika bermain bersama mereka, bukan sebagai orang tua. Fase 0-7 tahun tidak akan berulang dua kali, baiknya kita menemani terus agar anak-anak merasa bahwa orang tua adalah sahabatnya, sehingga nanti ketika anak beranjak besar dan ketika memiliki masalah anak akan mencari kita orang tuanya untuk bercerita dan bertanya layaknya sahabat. Memori ketika anak-anak usia 0-7 tahun akan menancap sampai mereka dewasa. Bila anak dibersamai oleh orang tua, ketika ia beranjak dewasa akan menjadi pribadi yang kuat, pemberani.
Selain itu buatkan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang bisa menstimulasi tumbuh kembangnya dengan baik.


bikin-bikin sama ayah


Sebenarnya di catatan saya ada 10 hal yang harus kita lakukan di fase Thufulah, baru lima saja yang saya tuliskan , karena yang lima lagi lumayan panjang juga hehehe. Nanti kita sambung lagi di postingan berikutnya ya. 

Disclaimer : tulisan ini berdasarkan hasil kajian seri Islamic Parenting oleh Ustadz Abul Abbas Thobroni Hafizahullah,  beberapa sumber dari website Rumaysho dan buku parenting Fitrah Based Education. Kami hanya sekedar berbagi pengalaman, bukan sebagai acuan mutlak untuk pola asuh orang lain. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kerecehan kami kali ini. 

Wassalamualaikum,












Tugas Game Level 2 : Melatih Kemandirian Anak - Hari Ke-4




Mandiri dalam Beraktivitas


Bismillahirahmanirahiim

Hari ini, si anak sulung main sama temannya keluar rumah, membawa plastik sambil mereka bilang "mau dipakai mencari sampah, dan sampahnya nanti akan digunakan untuk membuat prakarya." Ya oke baiklah, jam 11 siang dia baru pulang dengan bawa beberapa botol air mineral, baju dekil, dan keringatan 😁 tapi ketawa gembira dan bilang "aku dapat botol air nanti mau aku cuci terus dibuat nanem sayur2an". 

Oke baiklah, disimpen dulu terus mandi Dan lanjut makan pisang goreng. Habis mandi dia cuci semua botolnya dan simpan untuk dieksekusi besok pagi. Di foto ini, dia menyiapkan semua kegiatannya sendiri, belajar bahasa inggris sambil melancarkan mengeja dengan puzzle, menggambar ambulance dengan contoh dari brosur mainan karena ingin tahu ada apa aja di ambulance itu. Kemudian membuat egrang sendiri dari pot plastik punya Saya, berinisiatif melapisi pot dengan kain supaya tidak sakit kakinya. .






Setelah saya amati perkembangannya dalam empat hari ini, Saya sampai di kesimpulan bahwa Kakay sudah bisa mandiri dalam berkarya. Dia sudah bisa menyampaikan keinginan, menyiapkan peralatan dan mengerjakan sendiri kegiatan, juga mencari solusi ketika menemukan hambatan. .

Intinya ketika kita membiarkan anak mengkesplorasi apapun yang dia inginkan, pola pikir Dan imajinasinya akan semakin berkembang. Mereka bisa mencari solusi sendiri dan menemukan banyak sekali ide-ide ajaib yang kadang Kita sendiri ga pernah bayangkan. Teringat hasil kajian minggu lalu yg bilang "belajar bisa di mana saja, tidak harus di sekolah. Karena tempat belajar yg baik adalah tempat yang bisa membuat anak2 berpikir kreatif, inovatif dan out of the box" Masyaa Allah Tabarakallah ya nak. Semoga ke depannya semakin baik lagi. Aamiin. Besok kita mulai latihan skill lainnya yaaaa. .

Wassalamualaikum,


Tugas Game Level 2 : Melatih Kemandirian Anak - Hari Ke 3


Konsekuensi dalam Beraktivitas

Bismillahirahmanirahiim

Hari ketiga dalam melatih Kemandirian anak kemarin saya isi dengan bermain di luar, Qodarullah mba Clefy ngajak ke Scientia anak-anak untuk main di luar. Dari pagi Kakay sudah semangat kalau pergi-pergi begini. Konsekuensi dari acara main di luar ini sudah tentu harus diiringi dengan dia harus sigap dalam menyiapkan diri dan kebutuhannya nanti. .

Sebelum berangkat Saya dan ayahnya sudah briefing dia terlebih dulu, segala Do and Don't s nya sudah di sampaikan, dan Kakay sudah mengangguk, paham, juga menyetujui kesepakatan tadi. Ceklistnya adalah : siapkan perlatan bermain yg mau dibawa, siapkan pakaian ganti, dan harus mendengarkan instruksi bunda selama bepergian. 







Sampai di tkp, Kakay langsung bersiap2 main, pasang safety gearnya sendiri, lanjut main smp dia beresin sendiri sepatu rodanya waktu selesai. Waktu di sana ada kendala ga? O tentu saja ada, ga asik kalo ga ada kendala ya kaaan 😂 minta kesana kesini sementara adek udah rewel pengen merayap, ga betah digendong 😆. Tapi secara keseluruhan Kakay bisa kooperatif dengan mengerjakan beberapa Hal sendiri sampai merapikan sepatu rodanya, juga mau bantu bawa tentengan mainan walaupun tas sepatu roda yg berat akhirnya pindah ke bahu emak. 






Sampai rumah dia masih mau main, berakhir dengan tidur lebih lambat dari waktu tidurnya, dan berimbas ke cranky ketika dibangunin ngaji, akhirnya de.ra.maaaa..terus saya ga izinkan pergi ngaji sambil nangis. Ah yaudahlah ya kak, kita sama2 berproses dan lebih santai supaya Kakay bisa menikmati prosesnya belajar mandiri. Nice try nak, Tabarakallah ya sis.


Wassalamualaikum




Friday, October 5, 2018

Tugas Game Level 2 : Melatih Kemandirian Anak - Hari Ke 2




Imaginative Play



Bismillahirahmanirahiim


Salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh anak-anak adalah berimajinasi, menyediakan beberapa benda yang random, atau beberapa jenis mainan bisa membangkitkan imajinasi anak dan memperkaya kosa kata serta pengetahuan mereka. .

Kakay sekarang2 ini masih bercita-cita jadi astronot, jadi kalau dia main-main bareng sama temannya nanti pasti yg dijadikan bahan imajinasi adalah terbang ke luar angkasa, naik roket, bikin roket, bikin pesawat, dan lain-lain sampai ada meteor di kantor ayah. Di foto ini dia nyapu setelah selesai main-main sampai siang, ngoceeeeeh segala macam sampai mainan awur2an dari dalam ruangan keluar ke halaman belakang. Berantakan? Ooo tentu sajaaa, layaknya ibuk2 lain yang suka pusing ngeliat mainan kececeran di mana2, Saya juga cuma bisa ngingetin "kalo habis main beresin yaaaa, kalo habis main kembalikan ke tempatnya lagi yaaaa, itu kalau sudah selesai disapu ya kak, dst." .





Terus rumahnya rapi ga? Ya enggak juga, masih banyak mainan yg ga pada tempatnya, tapi ga sekapal pecah banget ko hehehe..masih bisa gelindingan di lantai kesana kesini.

Nah jadi kesimpulan dari hasil observasi di Hari kedua adalah, Kakay sudah bisa jawab "iya bun, nanti habis main kusapu lagi, kuberesin lagi mainannya" and she did well Alhamdulillah. Ah iya foto bermain diambil dr foto 2 Hari sebelumnya, karena memang setiap hari kegiatannya seperti ini. Alhamdulillah Kakay sudah mau belajar bertanggung jawab dengan hasil karyanya berantakin rumah walopuuuuun agak sedikit tar tar tar ngerjainnya tp gpp namanya juga berproses mandiri dan bertanggung jawab 😄 Masyaa Allah Tabarakallah nak ❤


Wassalamualaikum,







Tugas Game Level 2 : Melatih Kemandirian Anak - Hari Ke 1

Kemandirian dalam Berkarya


Bismillahirahmanirahiim



Sejak belajar lagi, mulai menggali lebih dalam dari sebelumnya mengenai Fitrah Based Education, Saya dan suami membiarkan Kakay lebih lepas dalam beraktivitas, tidak menjadwalkan ini itu dulu, dan yaaah lepas yg kami maksud semau-mau dia namun kami sudah tetapkan batas-batas yang kami bertiga sepakati sebelumnya. 
Salah satu bentuk kemandirian anak seusia Kakay adalah mandiri dalam berkarya, terlebih lagi untuk anak yang homeschooling sepertinya. .








Membuat kincir angin

Jadi skill yang akan Saya observasi di minggu pertama ini adalah kemampuan berkarya secara mandiri dan bertanggung jawab dengan hasil karyanya. Kemarin saya sudah mulai mengobservasi Kakay. Setelah dipancing dengan mengajak bikin2, akhirnya dia pilih bikin kincir angin kertas. Sudah ada tutorialnya di buku, kemudian saya presentasikan lebih dulu supaya tidak bingung. Selebihnya pilih sendiri mau pakai kertas yg mana, washi tape dan sedotan yg mana, dll monggo silahkan. 

Selesai bikin 3 kincir angin, tapi yg nusuk push pin ke sedotan ttp minta bantuin ibuk karena tajam ya. Pagi tadi dia bikin lagi kincir anginnya. Nah maghrib tadi pun dia bikin lagi kincir angin, tp bilangnya may dijadikan gears sesuai imajinasinya. Oh well silahkan kak.




dia bilang ini gears


double gears

Hari pertama observasi hasilnya berkarya secara mandiri sudah okesip, nilainya 7 dari 10. Sementara bertanggung jawab dengan hasil karyanya (termasuk sampah dari kertas yg dikruwes2 adek dan sisa2 guntingan) masih mendapat nilai 5 dari 10 karena sempet ditinggalin kabur dulu muter2 dan ngerjain yg lain lagi. Alhamdulillah wa syukurillah. Mari kita lanjutkan lagi observasinya besok, kira2 dia mau bikin apa ya 😁


Wassalamualaikum,






Tuesday, October 2, 2018

Mukadimah Fitrah Perkembangan Anak - Fase Usia Dini (Thufulah)

Bismillahirahmanirahiim,

Assalamualaikum teman-teman, kali ini saya mau sharing tentang hasil kajian yang Sabtu kemarin saya ikuti. Kajian oleh Ustadz Abul Abbas Thobroni Hafidzahullah ini judulnya tentang Kesalahan Pada Pendidikan Anak Usia Dini (Thufulah). Awalnya saya belum pernah ikut kajian beliau, nah Qodarullah Sabtu kemarin jadwal kajiannya hanya selisih setengah jam dari jadwal kelas sepatu rodanya Langit. Jadinya waktu Langit di kelas, saya dan adek ke sebelah ikut kajian. 
Tema kajian ini benar-benar saya butuhkan karena saya dan suami sedang berusaha memperbaiki pola asuh kami, yang kami inginkan adalah pola yang sesuai dengan aturan Allah Subhanahu wa ta'ala dan yang dicontohkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam.

Di post ini saya akan menceritakan sedikit dari catatan saya kemarin dan ringkasan dari buku Fitrah Based Education yang ditulis oleh Ustadz Harry Santosa. 

Disclaimer: saya menulis ini berdasarkan pengalaman saya dan suami sebagai orang tua biasa dalam membersamai anak-anak kami, dan bukan dengan background psikologi anak. Masih banyak yang harus kami perbaiki dalam pola asuh kami, dan pandangan kami bukan acuan mutlak bagi orang lain, hanya sebatas berbagi pengalaman saja.

Bicara tentang Fitrah Perkembangan, layaknya tumbuhan yang tumbuh dan berkembang step by step, begitu pula perkembangan anak-anak. Dalam sunnatullah perkembangan atau pertumbuhan ini tidak berlaku "makin cepat makin baik", juga jangan terlalu terlambat untuk setiap tahapannya. Segala sesuatunya akan indah bila tumbuh pada saatnya. Inilah potensi fitrah perkembangan. Karena peran pendidikan adalah menumbuhkan fitrah anak-anak kita maka pendidikan fitrah keimanan, pendidikan fitrah belajar, dan pendidikan fitrah bakat sebaiknya mengikuti sunnatullah tahapan waktu. (1) 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Islam telah mengatur semua aspek kehidupan manusia secara sempurna dan mendetail, pun dengan pendidikan anak, sejak dalam kandungan ibu hingga menjelang pernikahan. Hyaaaaaa,,,kemana ajaaaa saya ini baru melek sekarang huhuhu. Tapi Masyaa Allah, Alhamdulillah Allah masih memberikan hidayah buat kami belajar Islamic Parenting. 

Nah Islam membagi konsep pendidikan anak menjadi empat fase, yaitu fase Thufulah, fase Tamyiz,  fase Muro'ib, dan fase Bulugh / Baligh. 

Fase yang pertama adalah Thufulah atau ketika usia anak 0 - 7 tahun. Fase Thufulah sendiri dibagi lagi menjadi dua, yaitu fase Thufulah Sugra (0-2 tahun) dan fase Thufulah Kubra (3-7 tahun)
  • Fase Thufulah Sugra (0-2 tahun) adalah fase perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.

Si adek dalam fase Thufulah Sugra 

  • Fase Thufulah Kubra (3-7 tahun) adalah fase perkembangan dari usia 2 hingga 5 atau 6 tahun (usia prasekolah). Dalam masa ini anak-anak belajar mandiri dan menjaga diri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (seperti mengikuti perintah, mengidentiifkasi huruf dan angka), serta meluangkan waktu berjam-jam untuk main-main dengan teman sebaya.


Si kakak dalam fase Thufulah Kubra 

Fase yang kedua adalah Fase Tamyiz atau usia 7 - 10 tahun (anak-anak di usia ini disebut Mumayiz)
adalah masa pertengahan dan masa akhir anak-anak yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan fundamental  seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai dengan baik. Anak-aak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kultur budaya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

Fase ketiga adalah Fase Muro'ib, fase ini merupkan masa latih akhir, umumnya masa baligh bermula pada perubahan fisik, pertumbuhan tinggi badan, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik anak. 

Fase yang keempat adalah Fase Baligh atau usia 14 - 17 tahun. Di masa ini adalah masa perkembangan terakhir anak-anak. Perlu diingat bahwa masa Baligh sudah harus dibarengi dengan Aqil, yaitu pencapaian kemandirian dan identitas yang menonjol. Pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealis, pada masa ini juga anak-anak sudah semakin banyak menghabisakan waktu di luar bersama teman-temannya. 

Waktu kita dalam mendidik dan membersamai anak-anak hanyalah sebentar saja, untuk itu keempat fase ini harus dilewati dengan lengkap, jangan sampai ada yang terlewat, karena apabila ada satu fase yang terlewat maka harus diulangi lagi dari awal. Fase yang kurang lengkap akan menjadikan anak-anak menjadi Baligh tanpa Aqil, yang disebut dengan Remaja. Remaja merupakan sebutan untuk anak-anak yang memiliki fisik sudah baligh tetapi pola pemikirannya masih kekanak-kanakan. 

Alhamdulillah kami masih memiliki waktu setahun untuk memperbaiki dan mempersiapkan Langit memasuki masa Tamyiz nya, dan sambil terus belajar untuk membersamai adek Khal dalam menjalani fase Thufulahnya. Ternyata setelah belajar ini kemarin, saya bisa makin lebih santai dengan perkembangan Langit, yang kalau dilihat dari segi akademis teman-teman sebayanya dia tertinggal hehehe, biar dia puas-puasin main dan eksplorasi segala macam sehingga nanti ketika dia masuk fase Tamyiz, Insyaa Allah akan sesuai dengan fitrah perkembangannya. 

Memperbaiki pola asuh bukan berarti sepenuhnya salah, hanya saja ada yang kurang tepat yang kemarin-kemarin kami aplikasikan. Insyaa Allah ke depannya akan semakin bisa memfasilitasi, membersamai dan mengapresiasi dalam setiap fase perkembangan anak-anak. Sejauh ini apa yang sudah kami sediakan untuk Langit bisa memfasilitasi rasa ingin tahunya, walaupun masih ada kurangnya. Begitu pun dengan adek, saya berusaha untuk menstimulasi perkembangannya, yang memang di fase Thufulah ini lebih banyak stimulasi untuk perkembangan sensori motoriknya. 

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari sharing ini ya teman-teman. Insyaa Allah nanti secepatnya akan dilanjutkan lagi di postingan berikutnya tentang point-point apa saja yang harus dilakukan untuk anak-anak dalam fase Thufulah.

Footnote  :  (1) Dikutip dari buku Fitrah Based Education - Ustadz Harry Sentosa, 2016

Wassalamualaikum,




Aliran Rasa Game Level 1 - Komunikasi Produktif




Bismillahirahmanirahiim

Setelah melewati 11 hari tantangan Game Level 1 ini, saya belajar Cara berkomunikasi yang produktif dan menerapkannya ke anak sulung saya. Sebenarnya pilihannya boleh observasi Komunikasi antara suami atau anak, saya memilih observasi ke anak saya karena waktu interaksi saya setiap hari lebih banyak dengannya dibandingkan dengan suami. .

Alasan utama saya mengikuti kuliah Bunda Sayang ini adalah agar saya mampu berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak. Karena bukan hal yang mudah menerjemahkan keinginan kita agar dimengerti anak, pun seringkali saya tidak bisa memahami keinginan anak, sehingga berakhir dengan drama tangisan yang menguras emosi. Kalau sudah emosi semuanya akan jadi serba salah, gesture salah, ucapan salah, mau ambil keputusan pun jd tergesa2.

Apalagi dengan kehadiran adik yg membutuhkan perhatian lebih banyak, membuat saya sering sambil lalu ketika bicara dengan Kakay, pdhl penting untuk menunjukkan perhatian dan ketertarikan akan topik yg dibicarakannya. Kakay sdh besar, sudah banyak mengalah pd adik, dan membantu saya menjaga adiknya, she's my best helper, tapi kadang Saya yg sdh terlalu lelah malah jd lupa akan perkembangan Kakay yg ini. Semoga saya tidak menjadi ibu yg kufur nikmat sdh dikaruniai anak2 hebat ini. Masyaa Allah Tabarakallah kak 💕 Jazaakillahu khair



Dari beberapa point yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi dgn anak, yg paling sering saya usahakan adalah KISS, Menyampaikan Pujian dan kritikan dengan jelas, mengubah perintah jadi pilihan, dan mengatakan keinginan saya.. Does it works? Alhamdulillah it works smoothly bila saya mempraktekkan ilmunya. Kalau bablas tidak dipraktekkan yowes wassalam alamat drama ibuuuk 😂. Lalu apakah cukup praktek hanya 11 hari? Tentu saja tidak cukup, it takes life time to practice ya buk ya.. Well semoga hari-hari ke depan saya bisa tetap sadar dan sabar untuk mempraktekkan point-point Komunikasi Produktif ini. Aamiin

Wassalamualaikum,


Tugas Komunikasi Produktif - Hari Ke 11


Bismillahirahmanirahiim 



Tadi pagi berbarengan dengan masak sarapan, saya minta tolong sama Kakay untuk bantu pekerjaan rumah.
👸:"Kak, bolehkah aku minta tolong rapikan mainan yg di lantai supaya aku bisa langsung sapuin habis ini?"
👧:"Oke bun aku rapiin dulu." Kemudian sambil rapi2 dia bilang "Bun, ga usah nyapu2 lagi, biar aku aja yang nyapuin"

Ooo Masyaa Allah dibandingkan Saya mengeluarkan kalimat "Kay tolong rapiin mainannya", kalimat yg saya lontarkan lebih baik hasilnya, jadi positif dan unpredictable diiringi bonus juga ya feedbacknya 😝 Alhamdulillah.
Tabarakallah nak, makasi ya udah bantu-bantuin aku. .



Wassalamualaikum,






Tugas Komunikasi Produktif - Hari Ke 10
______________________________________
Bismillahirahmanirahiim
Pagi tadi jadwalnya Kakay ikut latihan sepatu roda. Semalam saya sudah mengingatkan jadwalnya dan dia berinisiatif untuk menyiapkan perlengkapan yg harus dibawa latihan supaya tidak terburu-buru paginya. .
.
Saya bilang "Kak, besok mau latihan rollerskool ga? Kalau mau latihan berati tidur cepat ya supaya ga kesiangan" dia jawab "asik mau rollerskool, yaudah aku siap2in dulu ya sepatunya terus tidur biar besok ga kesiangan" .
.



Beberapa kawan pernah tanya sama saya "kenapa Kay homeschooling, nanti pergaulannya gimana? Nanti ga bisa bersosialisasi loh, kasian" Dan beberapa pertanyaan sejenis sering muncul. Kalau ada yang sudah pernah bertemu dgn Kay, di awal aja dia malu, setengah jam berikutnya dia sudah bisa mencari teman. Seringkali saya temukan dia ketika pulang kegiatan melambaikan tangan ke temannya "dadah bebi. Aku pulang duluan ya" atau "Ayo Aisya Kita ngumpul ke tempat coach" atau "ayo Jet, bareng2 ngumpulin mutiaranya" dll di pertemuan pertama kalinya dengan kawan baru. .
.
Seperti di kelas ini tadi pagi "Amira, itu safetynya kebalik, bukan seperti itu" Dan ternyata safety temannya terbalik pasangnya. Coachnya pun mengapresiasi Cara Kakay memperhatikan temannya. Padahal bertemu Amira pun baru sekali 😊. Alhamdulillah Kakay bisa menempatkan diri di sekitarnya dengan baik, walaupun anak HS, walaupun dia ga sekolah formal. Tapi dia bisa ikut kegiatan apapun yg bermanfaat sesuai minatnya. .
.
Walaupun tadi ga memujinya langsung, tp dalam hati Saya terharu dengan perhatiannya pada temannya dan keberaniannya berkomunikasi dengan coach2 nya. Alhamdulillah good job Kakay. Tabarakallah nak❤

Wassalamualaikum,


Tugas Komunikasi Produktif - Hari Ke 9



Bismillahirahmanirahiim

Perjalanan ngaji kemarin melewati rute rumah - masjid - tempat jajan - kantor ayah - rumah. Kakay Naik sepeda, adek naik gendongan, ibun Naik sikil. . .

Sebelum berangkat, rantai sepedanya lepas, tapi kemudian Pak satpam membantu pasang lagi rantainya. Alhamdulillah. Waktu pulang lewat kolong kawat dibantuin Pak satpam eh rantainya lepas lagi. Dia ga kesel, cuma bilang "bun, rantainya lepas lagi, kayanya kebanting td waktu kuturunin sepedanya". Yang bikin gemes, dia malah duduk2 di bangku depan mini market sambil nunggu Saya panggil Pak satpam. Setelah rantainya selesai diperbaiki, Alhamdulillah perjalanan lancar smp dekat rumah. Nah 50m Dr rumah lepas lagi deh itu rantai sepeda. .



Supaya ga kesel, kuketawakan lah dia "yaaaah, lepas lagi deh rantainya, jadinya sama Kaya aku dong ya, jalan kaki Kak" 
Dia bilang "iya bun, untung lepasnya di sini ya, aku ga pegel jadinya". Di saat2 tak terduga gini Saya ingin dia tetap bersyukur, jadi saya bercandain dulu supaya ga cranky sambil diingatkan. "Bersyukur ya Kak, masih punya sepeda. Bersyukur ya Kak lepasnya pas udah deket rumah, jadi akak jalannya ga jauh. Bersyukur ya Kak masih bisa beli pisang goreng (kesukaannya banget)." Dan saya bersyukur karena adek ga rewel sama sekali, akak juga ga mudah rewel karena sudah tau konsekuensi milih tetap berangkat dengan naik sepeda. .

Apakah dia selalu seperti ini? O tentu tidak juga, karena Ada aja waktu bertingkah luwar biasyaak. Masyaa Allah Tabarakallah ya Kak, semoga makin besar makin yo-i kooperatifnya. Aamiin .


Wassalamualaikum,


Tugas Game Level 1 - Komunikasi Produktif Hari Ke 8


Bismillahirahmanirahiim



Tadi siang Kakay tidur cuma sekejap sajah, karena katanya dia ingin main. Padahal sebelumnya mainnya juga sudah lama, dan di perjanjian yang sudah kami sepakati bahwa harus tidur siang kalau mau diizinkan bermain lagi. Pulang main sore lanjut lagi di rumah main sama adek. Tapi waktu mau tidur adalah dia mengeluh matanya perih, katanya kelilipan. Oh ya baiklah mari mainkan " drama sebelum tidur karena bapake blm pulang jadi ada aja dramanya" Tarakdungcesss 😂



Seperti kalimat yang ada di foto ini "Kita perlu melihat apa yang dilakukan ketika lelah, stress, dan ditarik sampai ambang batas . Tindakan ini dinamakan default setting yang dipengaruhi oleh pengalaman kita di masa lalu." Nah Alhamdulillah beberapa minggu lalu saya mendapatkan pembahasan tentang ini di kelas pra bunsay, tentang Inner Child. Maka barusan saya ingat2 lagi pengalaman saya dulu waktu kecil, dan cara mengatasinya dengan point Komunikasi Produktif ini. .

Oh ternyata si Nona drama ini matanya kelelahan dan ngantuk, bukan kelilipan biji saga, jadi setelah saya pijit2 sedikit matanya, dan waktu di observasi Alhamdulillah ga ada debu, bulu Mata, belek, maupun biji saga yang nyangkut di matanya. Dia hanya rindu bapaknya lalu main drama ke emaknya sebelum tidur. Akhirnya setelah tarik nafas lega dan ngasih petuah jangan lupa cuci tangan setiap habis main dan jangan urek2 mata, Kakay ngangguk2 lalu tidur dengan kalem. Alhamdulillah 1 anak udah tidur, tinggal bayik yg jerit2 minta dikelonin tapi sekarang juga udah tidur. Alhamdulillah ala kulli haal. .

Berusaha tetap sadar dan sabar walau sudah terlalu lelah, semoga Allah Subhanahu wa ta'ala selalu paringi kita kesabaran dan kesadaran seluas samudera. Tadi sempet sih keceplosan dikit kaya petasan banting, eh Alhamdulillah langsung nyesel dan dikasih inget jadi bisa nyari solusi. 
Have a peaceful night buibu, selamat istirahat 😊


Wassalamualaikum,


Tugas Game Level 1 - Komunikasi Produktif



Bismillahirahmanirahiim



Another berangkat ngaji, tapi naik sepeda (Kakay yg naik sepeda, ibuk naik sikil tentunya 😁)

Jalan-jalan kaya gini tuh tantangan sendiri buat kami, beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diawasi dengan baik adalah kecepatan si Kakay gowes sepeda, kendaraan yg lalu lalang, waktu nyebrang di jalan juga harus ekstra hati-hati karena yg lewat itu truk tanah besar2. Ketika sampai masjid lega rasanya karena separuh perjalanan bisa diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah.


Sebelum berangkat Saya sampaikan keinginan Saya kalau mau naik sepeda berati siap2nya harus lebih awal, Dan selama di jalan harus mendengarkan instruksi Bunda. Briefing juga untuk memberi tahu situasi yang akan dilihat nanti, Dan selama perjalanan ga berhenti2 bilang "Kak, tidak ngebut. Kak, lihat kanan kiri. Kak, tungguin bunda. Kak, itu gamisnya turun. Kak, naikin gamisnya." Endebre endebre endebre. Pulang dari masjid, tenaga ibunya udah mau habis, jalan makin lambat. Kakay nanya "bun, jalannya lama amaaat" Kuingin ngedumel tapi Kan ini bagian membersamai anak dalam menuntut ilmu, jadi cuma bisa bilang "yaiya dooong aku kan pegel sikilnya kaaaak" 😂😂

Terus dia bilang "aku juga pegel kakinya bun". Lalu apakah besok mau naik sepeda lagi? Wooo tentu saja dia langsung jawab "iya dong Naik sepeda lagi". Alhamdulillah well done Kak sudah bisa berkendara dengan baik Dan mau mendengarkan instruksi bunda.Oh well si anak kinestetik yang memang selalu semangat main di luar ya begini. Semoga Allah Subahahu wa ta'ala selalu mudahkan dan paringi kami kesehatan dan semangat dalam membersamai anak2. Aamiin. .


Wassalamualaikum


Tugas Game Level 1 - Komunikasi Produktif Hari ke-6


Bismillahirahmanirahiim



Kemarin kami berempat pergi memberikan pengalaman lagi ke anak-anak. Sewaktu kecil dulu saya terbiasa pergi dengan orang tua menggunakan mobil angkot, bus, atau kereta. Sekarang waktunya saya mengajak anak2 terbiasa dengan kendaraan umum juga. Alhamdulillah Kakay sudah terbiasa juga sejak masih digendong pergi-pergi naik angkot atau ojek berdua saja dengan saya. Adek pun senang dengan pengalamannya berkereta dan berbajai ria, walaupun meleknya waktu di kereta pulang 😊

Pergi-pergi dengan kendaraan umum seperti ini bisa memberikan banyak pengalaman Dan selalu jadi kegiatan favoritnya Kakay, dapat jadi media untuk mengajarkan empati kepada anak, mengajarkan Adab di tempat umum juga karena bisa langsung praktek di lapangan. Homeschooler belajar di manapun mereka berada, indeed real lyfe is the curriculum ❤




Wassalamualaikum,